Bupati Nonjobkan Arif Sambudi, Hilman Gantikan Polres Tanjabbar Gelar Vaksinasi Massal Di Jajaran Polsek Muklis : Saya Sudah Rasakan Posisi Paling Bawah dan Buat Kopi Untuk Atasan Cabup Muklis Konsolidasi di Sejumlah Posko Relawan Masalah Sosial Dan Ekonomi Jadi Sasaran Utama Diselesaikan

Home / Opini

Kamis, 7 November 2019 - 12:44 WIB

Hilirisasi Berbasis SDA Di Provinsi Jambi

Oleh : Dr.H.Katamso,SA

Hilirisasi, bukanlah istilah baru, Hilirisasi adalah  sebuah kata, yang sudah lama kita dengar. Namun kata ini seakan tidak  pernah lekang karena panas, tidak  hancur karena hujan. Apalagi pada perekonomian daerah yang mengandalkan sumber daya alam sebagai penggerak utama roda ekonominya. Sektor hulu sudah hampir sampai ketitik nadir, karena keterbatasan lahan sudah terkulminasi dan Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa tidak membuat lahan tambahan lagi untuk ektensifikasi lahan pertanian dan perkebunan.

Perekonomian Provinsi Jambi berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2018 mencapai Rp208.378,55 miliar dan PDRB perkapita mencapai Rp58,36 juta.,Struktur ekonomi Provinsi Jambi pada trahun 2018 didominasi oleh sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang memebrikan kontribusi terbesar terhadap PRRB yakni sebesar 27,57 persen. Diikuti oleh sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 20,17 persen.

Dengan sumbangan yang signifikan tersebut tentunya pertanian merupakan sektor penyerap 33,3% total tenaga kerja dan sumber utama pendapatan rumah tangga pedesaan. Selain itu, komoditas pertanian (perkebunan) juga mempunyai kontribusi besar terhadap ekspor selain komoditas tambang.Indonesia yang kaya SDA selama ini dinilai kurang memperoleh manfaat dari potensi tersebut karena Sayangnya, ekspor komoditas pertanian dan juga tambang kita masih dalam bentuk mentah sehingga kondisi tersebut kurang optimal bagi perekonomian. Apabila kita mengolahnya lebih lanjut menjadi produk olahan (produk hilir) kemudian diekspor, maka kondisi tersebut akan meningkatkan nilai tambah bagi ekonomi daerah  jauh lebih tinggi.

Dengan memperbesar porsi produk hilir dalam struktur ekspor maka negara/ daerah  yang bersangkutan akan relatif lebih baik kondisinya ketika terjadi fluktuasi harga komoditas dunia dibandingkan apabila porsi produk mentah yang mendominasi ekspor. Kondisi tersebut dapat dilihat dari kasus Indonesia sendiri dimana nilai ekspornya akan jatuh mengikuti penurunan tajam harga karet  dan CPO (Crude Palm Oil), dimana dua komoditas tersebut adalah komoditas perkebunan utama ekspor Provinsi Jambi.

Dengan demikian, pasar domestik tersebut berfungsi sebagai alternatif motor penggerak ketika pasar ekspor sedang mengalami kelesuan akibat dari perlambatan ekonomi global. Manfaat selanjutnya dari mengembangkan industri hilir yang kuat di sektor pertanian adalah meningkatkan daya saing industri pertanian kita di tingkat regional ASEAN dan global. Dengan sumber daya alam yang berlimpah sebagai sumber bahan baku maka seharusnya industri berbasis agro di Indonesia mempunyai competitive advantage dalam hal biaya produksi.

BACA JUGA  Terhempasnya Rasionalitas di Pusaran Politik Transaksional

Jambi yang memiliki sumber saya alam yang melimpah akan sangat diuntungkan dengan seandainyaada industri hilir yang kuat. Perekonomian daerah yang terus tumbuh  menjanjikan pasar dengan daya serap yang tinggi bagi produk industri hilir dari mulai peralatan kebutuhan rumah tangga, produk makanan dan minuman sampai dengan produk kendaraan bermotor.

Provinsi Jambi mempunyai 7(tujuh) komoditas unggulan seperti Kepala Sawit, Karet, Kelapa Dalam, Pinang, Kopi, Kayu Manis dan Teh. Perkebunan kelapa sawit di Jambi  seluas 1.039.920 hektar dengan produksi lebih kurang 1.683.532 ton pada tahun 2017, menyerap 212,833 kepala keluarga. Komoditas karet pun dengan keluasan 673.360 Hektar dengan produksi 263.398 ton dan menyerap tenaga kerja 263.398 kepala keluarga. Komoditas kelapa dalam dengan luas 118.341 Hektar, produksi sebesar 108.087 ton. Belum lagi komoditas lain seperti Pinang, Kopi, Kayu Manis dan Teh.

Namun dilihat dari sisi pengolahan, semua komoditas unggulan tersebut sebagian besar hanya terhenti disisi mentah saja. Kelapa Sawit hanya memproduksi dan mengekspor CPO dan hanya terdapat 5(lima) pabrik minyak goreng, Karet hanya menghasilkan sheet crumb rubber yang diolah oleh 9(sembilan) crumb rubber, begitu juga dengan Kelapa Dalam yang hanya mengekspor kelapa butiran dan hanya diolah menjadi minyak goreng oleh  4(empat) industri dengan kapasitas sangat terbatas.

Angka ekpor komoditas andalan yang cukup besar tadi berkontribusi terhedap pembentukan PDRB Provinsi Jambi dan seakan-akan besar sumbangsihnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun kontribusi yang besar itu hanya semu dan hanya sebatas nomimal angka. Padahal jika ada industri hilirnya di Provinsi Jambi tentunya sumbangsih terhadap ekonomi jauh semakin besar baik secara angka maupun daya dorongnya ( push power) terhadap ekonomi masyarakat semakin besar pula melalui terciptanya lapangan kerja.

Komoditas kelapa sawit memberikan banyak turunan. Bersyukur kita di tingkat pusat sudah ada kebijakan pemakaian Bio diesel B20 bahkan akan menuju B30. Namun ditingkat daerah, khususnya Provinsi Jambi, belum ada satupun pabrik Mentega, sabun, coklat dan detergen apalagi make-up yang merupakan kebutuhan  sehari hari dan merupakan pabrik turunan kelapa sawit.   Simulasi sederhana; berdiri satu pabrik dari turunan komoditas kelapa sawit tersebut menyerap 100 orang tenaga kerja, berapa banyak tenaga kerja dapat terserap oleh turunan komoditas tersebut yang tentunya memberikan peluang kerja dan  penghasilan kepada angkatan kerja di Provinsi Jambi.  

BACA JUGA  Pengangkatan Pejabat Berdasarkan Kekerabatan Penyakit Birokrasi !

Demikian juga dengan komoditas karet, disamping harga yang sangat tergantung dengan pasar dunia, tata niaga yang masih sangat perlu jadi perhatian pemerintah, sehingga pendapatan petani masih rendah. Hilirisasi karet belum ada sama sekali di Provinsi Jambi padahal sudah banyak kelompok masyarakat baik bernaung dalam Kelompok Tani, Koperasi maupun BUMDes di daerah sentra karet yang  memiliki kemampuan untuk memproduksi produk sederhana berbahan baku karet dengan  mutu yang baik karena sudah dilatih oleh kementrian perindustrian.

Sudah banyak yang mampu membuat sparepart mobil/motor berbahan baku karet, Vulkanisir Ban dan lain-lain dan lucunya bahan bakunya berupa Kompon masih didatangkan dari luar Provinsi Jambi.   Hilirisasi karet ini akan berdampak langsung terhadap perekonomian daerah. Hal ini didukung oleh Penelitian Ilmiah  Dadang Hardiwan(2019), Kepala BPS Provinsi Jambi dalam Disertasi Doktor nya pada Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi yang berjudul Dampak Sektor Berbasis Perkebunan Terhadap Perekonomian Provinsi Jambi : Pendekatan Tabel Input Output Miyazawa”  bahwa pada  simulasi hilirisasi industri karet  menunjukkan investasi 1 Milyar rupiah akan menciptakan pembentukan total output sebesar 1,922 milyar rupiah.

Komoditas Kelapa Dalam  dan Pinang yang terkonsentrasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur pun butuh sentuhan industri hilir. Banyak industri hilir berbasis  komoditas tersebut dapat dikembangkan di Provinsi Jambi dan tentunya akan memberikan peluang kerja lebih terbuka bagi masyarakat khususnya di dua kabupaten tersebut.

Untuk itu dari sekarang  Pemerintah Provinsi Jambi terus menawarkan peluang investasi di Jambi dengan mengedapankan industri hilir bebasis Sumber Daya alam perkebunan tersebut., sementara disisi lain Pemda Provinsi Jambi terus melakukan pembenahan infrastruktur baik soft infrastructure seperti penyederhanaan proses perizinan maupun hard infrastructure berupa sarana pendukung baik jalan, jembatan dan lebih utama lagi pelabuhan laut sebagai sarana utama kegiatan ekpor-impor.

Kita berharap kedepan,   dengan penuh optimisme,  disamping angka nominal pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2018 sebesar 4,71 persen dapat di leverage sesuai target yaitu 5 persen pada tahun yang akan datang, dan tentunya yang jauh lebih penting lagi adalah kesejahteraan masyarakat Jambi khususnya petani dapat lebih ditingkatkan. Wallahuaalam bissawab.

 Penulis Adalah Seorang Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi dan Kepala Bidang Promosi Penanaman Modal, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu(DPMPTSP)Provinsi Jambi

Share :

Baca Juga

Opini

Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Sumber Daya Alam

Opini

Pengangkatan Pejabat Berdasarkan Kekerabatan Penyakit Birokrasi !

Opini

Arah Baru PAN” atau Arah Tenggelam?

Opini

Defisit Atau Akal-Akalan Menghindari Penarikan Deposito APBD ??

Opini

OPINI REDAKSI – Sejauh Mana Capaian Visi Misi Safrial-Amir Jelang 3 Tahun Menjabat ?

Opini

Terhempasnya Rasionalitas di Pusaran Politik Transaksional

Opini

Bahaya Politik Identitas

Opini

Kegaduhan Politik Balas Jasa Dan Balas Dendam