oleh

Skenario Empat Kandidat

JAMBI- Awal Agustus ini, tensi politik kian meninggi. Ajang Pilgub Jambi paling banyak menyedot perhatian. Semua mata dan telinga publik tertuju ke situ. Di mana saja, Pilgub selalu menjadi simpul pembicaraan.

Tak peduli kaya-miskin. Tua muda. Laki-laki perempuan. Semuanya seperti berambisi membincangkannya. Bagaimana nasib 4 pasang kandidat, memang menjadi topik paling panas dibicarakan.

Beragam analisis menyeruak. Yang bukan ahlinya pun ikutan menganalisis, boleh jadi dengan data seadanya. Dengan ilmu yang serba awam. Para timses tak kalah garang. Para kandidat pun ikut nyesek. Apalagi jika ia diisukan tak bakal maju karena gagal memperoleh dukungan parpol. Di sisi lain, ada kandidat yang, mungkin terpingkal-pingkal, karena sudah merasa aman.

Banyak pesan lewat aplikasi WA maupun via messenger Facebook masuk dan meminta saya untuk menulis sebuah analisa. Semuanya mengarah ke satu pertanyaan tadi : Apakah ada pasangan kandidat yang terdepak dari gelanggang Pilgub?

Terkaan yang tidak mudah untuk dijawab. Tapi, Saya mencoba memenuhi hasrat para sahabat, semoga menjernihkan.

Tentu saja, saya menggunakan kaidah berfikir yang berpedoman pada kaidah ilmu pengetahuan. Bukan anasir kosong, yang dibumbui stigma atau motif pribadi.

Baiklah.

Sebelum menjawab probabilitas atau kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi terhadap 4 pasang kandidat (Al Haris-Sani, Cek Endra-Ratu Munawaroh, Fachrori-Saprial dan Fasha-AJB), siapa pasangan yang terdepak? Sebaiknya kita mulai dengan membaca arah dukungan partai.

Bukankah sudah menjadi aturan perundangan, bahwa pasangan kandidat barulah bisa mendaftar ke KPU jika memeroleh dukungan partai politik pemilik kursi parlemen, minimal 11 kursi?. Bukankah tak satupun parpol mengantongi 11 kursi?

Sehingga memaksa kandidat, mau tak mau kudu mencari teman koalisi.

Arah Dukungan Partai

Dari 11 parpol pemilik kursi parlemen, sudah 8 partai menyatakan sikap. PKS (5 kursi), PKB (5 kursi) dan Berkarya (1 kursi) merapat ke pasangan Al Haris-Sani. Pasangan dengan jargon Mantap ini, jika tidak ada manuver, untuk sementara sudah bisa berlayar, dengan jumlah kursi pas-pasan.

Lalu Golkar.

Pemilik 7 kursi parlemen itu sejak awal sudah menerbitkan rekomendasi untuk sang ketua partainya, Cek Endra, yang akan berpasangan dengan Ratu Munawaroh. Partai berikut adalah Gerindra (7 kursi) dan Hanura (2 kursi), yang baru-baru ini sudah berkiblat ke pasangan Fachrori Umar-Saprial.

Lalu NasDem (2 Kursi ) dan PPP (3 kursi), yang sudah mengarahkan dukungan ke Fasha-AJB.

Jika kita urutkan, empat pasang kandidat masing-masing sudah punya modal partai.

1. Haris-Sani (11 Kursi)
2. Fachrori-Saprial ( 9 Kursi)
3. Cek Endra-Ratu Munawaroh (7 kursi)
4. Fasha-AJB (5 kursi)

Ini bukan nomor urut. Melainkan urutan pemilik kursi terbanyak hingga terdikit.

Tiga pasang kandidat (kecuali Haris-Sani), tentu harus berikhtiar keras menggaet partai lain, supaya mencukupi minimal 11 kursi. Mereka kudu bertempur memperebutkan 3 parpol sisa.

Tiga partai sisa itu, antaralain PDIP (9 kursi), Demokrat ( 7 Kursi) dan PAN (7 kursi). Secara kebetulan, tiga partai sisa ini memiliki kursi dominan di parlemen. Sehingga, arah dukungan mereka bisa menjadi penentu, apakah skema Pilgub berlangsung dengan 4 pasang kandidat atau tidak.

Coba kita analisis satu per satu kemungkinan arah tiga partai sisa ini.

PDIP belakangan sudah menampakkan kecondongannya. Gimmik politik partai berlogo kepala banteng bermata merah itu mengarah ke pasangan Cek Endra-Ratu Munawaroh. Awal pekan lalu, Edi Purwanto, sang Ketua DPD I PDIP Provinsi Jambi secara terang-terangan berpose denga mengangkat jari yang membentuk huruf C, simbol Cek Endra.

Ketua DPRD Provinsi Jambi itu juga kerap tampil mesra bersama Ratu Munawaroh, kandidat wakil Cek Endra. Ratu Munawaroh, di berbagai kesempatan sudah menyatakan telah bergabung dan menjadi bagian dari Partai Banteng.

Dari pengakuan di lingkaran Ratu, ia memilih hengkang dari PAN–partai yang pernah dibesarkan oleh mendiang suaminya, Zulkifli Nurdin–, karena tak memeroleh dukungan dari Bakri, Ketua DPW PAN Provinsi Jambi.

Mengenai apa alasannya, tentu bisa kita baca dari motif kepentingan parpol. Ia lantas berbelok ke PDIP.

Partai hanyalah sebagai tiket untuk menuju area kontestasi. Sejatinya, partai dibentuk sebagai alat perjuangan merebut kekuasaan, lewat jalan konstitusi, tentunya. Kekuasaan direbut karena di sana bercokol berbagai kenikmatan, sumberdaya, kemashuran, termasuk kekayaan.

Lewat parpol, perebutan kekuasaan menjadi cita-cita hakiki semua aktor politik di dalamnya.

Nah,

Dengan membaca motif kepentingan parpol itu, kita bisa dengan mudah menganalisis berbagai kemungkinan yang bakal terjadi.

Pasangan CE-Ratu tentu dianggap sejalan dengan PDIP. Mereka mengakomodir kepentingan PDIP. Sehingga, PDIP hampir pasti berkoalisi dengan Golkar, mengusung jagoannya CE-Ratu.

Begitupula dengan PAN. Hampir mustahil mendukung Ratu, meskipun sejak awal dia termasuk satu-satunya kader murni PAN yang turun berlaga di Pilgub. Membaca motif kepentingan PAN, Ratu dianggap tak sejalan dan tak mampu mengakomodir kepentingan mereka.

Lalu pertanyaannya, kemana arah PAN?

Jawabnya : tengok saja siapa kandidat yang bisa sejalan dan mengakomodir kepentingan PAN. Pasangan kandidat yang mampu memikul kepentingan PAN, pasti didukung. Boleh jadi Fasha-AJB, boleh jadi Haris-Sani, bahkan mungkin saja Fachrori-Saprial.

Tapi, berdasarkan pengamatan saya, kepentingan PAN lebih memungkinkan terakomodir oleh pasangan Fachrori-Saprial.

Pasca Ratu hengkang, Fasha-AJB memang santer disebut-sebut bakal berlabuh ke PAN. Ketua Tim Penjaringan PAN, Yos Adriano, secara kebetulan adalah calon kandidat wakil walikota Fikar Azami, putra kandung Asafri Jaya Bakri (AJB), pasangan Fasha.

Keberadaan Yos di barisan AJB dianggap pintu masuk bagi Fasha untuk menggaet PAN. Apalagi Fasha punya historis lama dengan PAN. Lingkaran terdekat Fasha juga banyak orang-orang PAN.

Tapi, ambisi Fasha-AJB merebut PAN mendadak luntur, seiring merapatnya Demokrat ke barisannya. Agus Harimurti Yudhoyono dikabarkan sudah merestui Demokrat untuk pasangan Fasha-AJB.

Alasannya cukup kuat. AJB adalah kader murni dan berprestasi. Kiprahnya teruji dalam membesarkan partai. Disamping itu, pasangan ini tentu sejalan dengan kepentingan Mercy.

Kendati Burhanudin Mahir, Ketua DPW Demokrat Provinsi Jambi sejak awal cenderung mengarah ke Fachrori-Saprial. Tapi, ia tentu tak berdaya menolak tekanan pusat, yang cenderung mengarah ke Fasha-AJB.

Lagi-lagi, kepentingan partai menjadi tolok ukur.

Kembali ke teori di atas, bahwa motif kepentingan partai tak jauh-jauh dari kekuasaan. Karena kekuasaan mendatangkan kemashuran dan kekayaan. Maka, dalam konteks itu, kepentingan partai harus dibaca dari motif kepentingan kekuasaan dan ekonomi.

Siapa kandidat yang akan diusung, tentu harus mampu dan sejalan dengan kepentingan mareka, ialah kepentingan kekuasaan dan ekonomi. Karena itu, dalam kontek demokrasi elektoral ini, partai hanya menjadi tiket untuk berkontestasi.

Mereka tak peduli kader atau non kader. Yang mereka pedulikan adalah kemenangan dan motif ekonomi. Siapa yang sejalan dengan kepentingan parpol, merekalah yang bakal diusung.

Dari skema itu, tentu sudah dapat kita simpulkan bahwa 4 pasang kandidat akan berlaga semua. CE-Ratu dengan sokongan PDIP menjadi 16 kursi. Lalu Fachrori-Saprial dengan tambahan PAN menjadi 16 kursi. Dan terakhir Fasha-AJB dengan Demokrat menjadi 12 kursi.

Apakah dukungan partai itu mungkin berubah? Mungkin saja. Tergantung siapa kandidat yang piawai membaca motif kepentingan partai itu. Adakah yang terdepak? Sepertinya ini menyangkut marwah dan harga diri. Empat pasang kandidat pastilah berjuang mati-matian untuk berlaga. Seperti teori ekonomi, sebuah produk kian mahal harganya ketika banyak yang memperebutkan. Di sinilah tiga partai terakhir memainkan peranannya. (*)

Penulis adalah Dosen Ilmu Pemerintahan UIN STS Jambi dan Peneliti di Puskaspol Jambi.

Dr. Dedek Kusnadi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed